Wednesday, April 9, 2008

gelisah untuk berfikir

Orang-orang yang berfikir adalah mereka yang senantiasa gelisah. Kegelisahan itu sendiri adalah bukti adanya kedinamisan berfikir. Segala sesuatu yang merupakan hasil dari pemikiran harus terus dipertanyakan dan diaktualisasikan dengan konteks yang juga selalu berubah.

Seorang pemikir juga harus mempunyai keberanian untuk – jika diperlukan – menabrak pakem atau aturan yang membelenggu kebebasannya. Bahkanpun jika ada ajaran agama yang tidak logis (atau menurutnya tak logis) tetap akan dipertanyakan dengan dasar-dasar yang akurat dan bukan sekedar protes membabi buta.

Seorang pemikir, kadangkala juga terpaksa berhadapan dengan pendapat umum tentang suatu kebenaran. Kebenaran yang dibawa seseorang tidak jarang bertentangan dengan kebenaran banyak orang. Ini tidak perlu dirisaukan. Yang penting adalah bahwa masing-masing pihak saling menghormati dan senantiasa terus mencari kebenaran yang sejati.


Untuk menjadi seorang pemikir, mungkin bagus jika memulainya terlebih dahulu sebagai pengamat. Ia mengamati dengan cermat segala hal yang menjadi ladang pemikirannya: bisa secara langsung atau lewat sumber-sumber lain yang relevan (buku-buka, data, informasi pihak lain, dll.)

Dari pengamatan itu, data dan fakta diformulasikan, di-cross check dan dikronologikan. Kemudian ditarik hal-hal substansial yang menjadi ujung benang merahnya. Semacam metode ilmiah yang lebih praktis.

Proses ketertarikan seseorang menjadi pemikir, biasanya dimulai dari hal-hal yang kecil yang unik dan membawa suasana fun. Misalnya: senang pada bacaan-bacaan ringan yang tak membuat dahi berkerut. Jika proses ini berlanjut, ia harus mulai merambah hal-hal mendasar, ilmu-ilmu beneran sebagai pijakan proses berfikirnya. Proses ini tentu saja tak sebentar, masing-masing orang berhak menentukan tahapannya sendiri dan memasukkan input yang terbaik untuk perkembangan pemikirannya.

Dan tentu saja tak setiap orang harus jadi pemikir. Ada sunatullah yang mengatur peran dan posisi sosial tiap-tiap manusia supaya kehidupan bisa terus berjalan. Seorang pemikir tak memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada orang yang tak suka berpikir. Yang harus dikembangkan adalah sikap toleransi dan saling menghormati.

Tapi barangkali, seorang pemikir yang gelisah adalah suatu kutukan. Adakah kebahagiaan yang bisa diperoleh dalam kegelisahan? Ataukah kegelisahan yang terus menerus ini akan menemukan kebahagiaan di ujungnya?

Tuesday, March 11, 2008

hati-hati di jalan, semoga selamat sampai akhirat


mengingat tujuan akhir adalah jalan yang bisa memberikan makna pada setiap langkah hidup kita. ada teman yang pernah bercerita tentang kisah pengusaha 'sukses' namun hidupnya tak pernah bahagia. walau dia menduduki top level manajemen diperusahaan itu, ia tidak menikmati hidupnya, keluarganya berantakan, di kantor ia dihormati sebatas asal bapak senang, di masyarakat lingkungan tidak pernah mendapat 'tempat' walau ia kaya. dengan kondisi seperti itu, ia memutuskan untuk bunuh diri, sebuah keputusan yang menurut dia tepat untuk menyelesaikan ketidakbahagiaannya. untuk merealisasikannya, ia pun mencoba untuk berkonsultasi dengan berberapa orang, kebayakan para kiai dan ulama. semuanya mengatakan jangan, itu perbuatan keji yang tiada ampunan untuk perkerjaan itu. kemudian setelah sekian waktu, ia menemui seorang ulama dan menceritakan perihal rencananya itu, bunuh diri.
anehnya, ulama tadi tidak mengatakan jangan. tapi, justru memberi ramuan untuk mempercepat proses bunuh diri tadi, satu gelas air. ulama tadi memberi tahukan aturan pakainya, setengah gelas diminum sekarang, setengahnya seminggu lagi baru boleh, dan hasilnya akan nampak setelah 1 minggu.
dengan hati senang, orang ini meminum setengah gelas, dan berharap seminggu segera datang dan meminum setengahnya lagi minggu depan. dia bergegas pulang, dan mempersiapkan menyambut hari-hari terakhir hidupnya.
sesampainya dirumah, ia ingat, bahwa hidupnya tinggal 1 minggu lagi, ia pun berubah ramah dengan keluarganya, hangat perlakuan pada anak istrinya, satu sikap yang baru. di kantor juga demikian, ia menjadi atasan yang sangat peduli dengan hal-hal kecil untuk selalu menghargainya, di masyarakat ia menjadi sangat dermawan tidak peduli orang berkata apa.
perubahan tadi, ternyata membawa efek baik. ia merasa bahagia dirumah, karena anak istrinya membalas perubahan tadi dengan kasih dan sayang, di kantor orang mulai simpatik, menghargai, disegani dan dimasyarakat orang ini mulai mendapat tempat. hanya dalam 1 minggu saja.
hari terakhir, dia mulai berpikir dan menyesal dengan rencananya untuk bunuh diri. tapi sudah kepalang, terlanjur ia meminum setengah ramuan pembunuh dari ulama tadi. pada hari yang telah dijanjikan ia pun kembali menghadap kepada ulama yang memberinya ramuan tadi. di sana, orang tersebut menceritakan perubahan hidup luar biasa dalam 1 minggu ini. dan berharap tidak jadi bunuh diri, tapi, ia sudah meminum ramuan setengahnya, apa daya.
ulama itupun mengatakan, bahwa orang tersebut belum menemukan makna hidup, belum minum air kehidupan. lanjutnya, air sudah diminum orang tersebut air biasa, yang terpenting adalah, orang tersebut sudah memahami, bahwa untuk memaknai hidup penting untuk mengetahui tujuan akhir, yaitu kematian. tujuan akhir ini akan menjadi energi kehidupan untuk selalu berbuat baik. buah dari perbuatan baik adalah kepuasan, kebaikan, keikhlasan dan pahala. itulah yang mebuat orang bahagia, apapun yang akan oranglain berikan.

ada satu pertanyaan penutup, apa yang akan kita lakukan hari ini, bila esok hari kita dipanggil yang kuasa?